July 6th, 2015

Kekuatan Komunitas dalam Marketing

by Yoe One

community-marketing

Hubbers, saat ini saran bagi manajemen dari akademisi dan konsultan cenderung datang dalam gelombang-gelombang yang terbentuk dalam siklus ekonomi. Saat keadaan gelombang itu naik, ini adalah tentang pemanfaatan trend dan teknologi baru. Pada gelombang turun, ini tentang menemukan cara untuk penghematan yang tidak akan menimbulkan polemik atau kemarahan konsumen yang dapat mengakibatkan pemulihan besar-besaran di masa depan.

Marketing sering disalah-artikan sebagai disiplin yang hasilnya tidak bisa diukur, sangat rentan terhadap perubahan “mood manajemen”. Hari ini, para marketer disarankan untuk melakukan meningkatkan resesi dengan memotong kembali menjadi iklan 15 detik, penyaranan kembali kreatif lama dan memfokuskan perhatian kembali pada segmen kaya, hedon ataupun keduanya.

Ada cara yang lebih baik untuk memikirkan kembali pemasaran yang mengalami penurunan. Bukan tentang menyusutkan jalan menuju pertumbuhan, kita semua tahu itu tidak akan bekerja.  Ini tentang pembentukan kembali tantangan untuk menemukan kesempatan baru dan mencari dengan jeli kebutuhan masyarakat disekitar kita.  Ini juga bagaimana menemukan sumber daya untuk menghasilkan pertumbuhan dengan melepas apa yang tidak lagi dihargai oleh konsumen kita. Ini adalah tentang “value” yang nyata yang akan berdampak hari ini dan mendukung investasi yang lebih baik esok. Ini tentang memikirkan kembali marketing melalui sudut pandang komunitas.

Kasus untuk pemasaran bagi komunitas menjadi sangat menarik jika melihat dari beberapa aspek ini;

  • Komunitas biaya rendah

cost lessBeberapa merek terkuat didunia secara original terbentuk melalui “low-cost community-based marketing” seperti Nike, Google, Starbucks, dan yang lainnya. Disaat perusahaan fokus pertama menemukan kebutuhan masyarakat yang mereka layani, mereka tidak perlu menghabiskan uang banyak untuk memikat konsumen. Dan disaat mereka tetap dekat dengan komunitas mereka tidak membutuhkan riset pasar untuk mereka tahu apa yang konsumen mereka butuhkan.

Sebagai contoh Astra Honda Motor, perusahaan sepeda motor yang mei 2015 lalu di Yogyakarta, memberikan 100 helm gratis bagi komunitas motor Honda. Hal tersebut merupakan wujud komitmen astra untuk merangkul dan mengedukasi sebuah budaya terhadap komunitasnya. Melalui berbagai cara dalam menggaet komunitasnya, astra Honda kini menjadi brand nomor 1 di Indonesia.

  • Komunitas menumbuhkan loyalitas

Linked hands on a white background symbolizing teamwork and friendship
Linked hands on a white background symbolizing teamwork and friendship

Secara alami manusia memiliki kebutuhan tertentu. Kebutuhan ini hampir sering ditemui lewat keluarga, dan komunitas. Disaat perusahaan memulai fokus pada pembentukan komunitas, ini membuat dampak besar pada ikatan emosional. Disaat sebuah komunitas baru terbentuk, orang-orang yang pernah merasa ditinggalkan dapat menemukan kembali sosok kerabat. Ketika sebuah komunitas diperkuat, mereka akan merasa memiliki peran penting untuk tumbuh.

Namun kompetisi dalam membangun citra merek tidaklah mudah. Namun seperti brand Nike, Nike telah melakukan pekerjaan luas biasa dalam menghubungkan segmen komunitas yang kurang “dihargai” dan membina masyarakat dalam membangun pemberdayaan.

  • Komunitas menjaga keaslian

originalityMerek komunitas tetap relevan karena merek tersebut terus menerus dapat beradaptasi dengan perubahan kebutuhan, kepentingan dan nilai-nilai dari orang-orang yang memberikan mereka makna. Starbucks secara original memberikan sebuah pengalaman “teater kopi” dengan masing-masing nuansa hati konsumennya. Semakin banyak pendatang baru gabung, para barista dilatih dan diedukasi mereka dengan “eksotisme kopi”, mengembangkan sebuah jalan dalam “petualangan” merek tersebut. Disaat terjadinya kepenatan dalam lingkungan kerja dan kehidupan rumah, starbucks dijadika “tempat ke-tiga” untuk melarikan diri, hal itu menambahkan nilai tambah dalam pengembangan sebuah brand seperti Starbucks.

Ditengah pertumbuhan yang cepat, individu menjadi bahan perhatian. Starbucks menanggapi dengan menekan kecenderungan budaya yang lebih besar dari hobi mengekspresikan diri untuk menawarkan sebuah nilai tambah dengan dapat membuat topping unik, bahan dan teknik pembuatan sesuka hati konsumen.

  • Komunitas menggerakan inovasi

InnovationTidak ada sumber pertumbuhan dan inovasi dibanding sebuah merek yang dicintai komunitas. Sebagai contoh merek sepatu Vans, awalnya pembuat sepatu dek murah, kemudian diikuti dedikasi kepada pelanggan dengan memperluas layanan sepatu surfing yang dapat didesain sendiri, membuat kompetisi surfing, sepatu skateboard, festival music dan bahkan sebuah film. Dalam masing-masing bisnis, produk baru, fitur dan cara marketing akan dihasilkan melalui ide dari “akar rumput”, yang dalam hal ini adalah konsumen itu sendiri.

Astra Honda Motor pun mei lalu melalui Indonesia Marketeers Festival yang diadakan tiap tahun oleh Markplus, melakukan kompetisi inovasi bagi komunitas astra Honda untuk mendapatkan ide inovasi baru dalam meningkatkan terus brand dari astra Honda motor. Hal tersebut untuk menciptakan sebuah inovasi yang berbasiskan langsung pada kebutuhan dan permintaan konsumen.

  • Komunitas mendukung penciptaan secara alami.

the-secret-of-innovative-companiesDalam masa perubahan besar, bisnis harus dapat menemukan jalan kembali untuk terus bertahan. Namun dorongan untuk kebanyakan adalah untuk jongkok, menunggu untuk digerakkan dan cemas terhadap perubahan nantinya. Keduanya meningkatkan resiko kegagalan dan kehilangan kesempatan untuk memberikan dorongan terhadap karyawan dan lompatan kompetisi melalui perubahan yang didorong oleh komunitas. Dengan merangkul komunitas, dimulai dari konsumen, namun memperluas jalan partner, karyawan, pemerintah, masyarakat dan investor, sebuah perusahaan dapat membangun kembali perusahaan dengan cara natural dibandingkan dengan memaksa.

Fokus pada semua aktifitas berdasarkan dalamnya pemahaman dan menemukan perubahan kebutuhan komunitas, sementara menguras pertumbuhan baru dan meluaskan fondasi pertumbuhan tersebut. Lou Gerstner membangun kembali IBM dibawah tekanan untuk merombak organisasi besar tersebut. Chief Executive perusahaan itu menjangkau pelanggan mereka yang paling penting dan menemukan tantangan yang paling mendesak mereka. Hal tersebut menghasilkan sebuah wawasan bahsa kekuatan nyata IBM adalah sebagai perusahaan “e-bisnis”.


Dalam masa-masa sulit lebih dari sebelumnya, orang mendambakan rasa dukungan masyarakat. Ketika perusahaan menyediakan kebutuhan tersebut dengan membangun komunitas yang memberikan nilai nyata dan emosional, melalui karyawan dan pelanggan bekerja sama untuk memecahkan tantangan. [dms]

Comments (0)